By sebastian | September 24, 2007
Setelah didesak oleh suamiku, dengan alasan bahwa tidak ada salahnya
berbagi pengalaman agar rekan-rekan dapat melihat dan menambah
pengetahuan tentang kehidupan seksual kami, akhirnya aku mau juga
menceritakan pengalaman seksualku, dengan syarat bahwa tidak ada
nama sesungguhnya. Saat ini jika anda membaca tulisan ini, suami
sayalah yang menulis serta meramu menjadi suatu tulisan, saya hanya
bercerita tentang pengalaman, perasaan dan pikiran saya. Silakan
apabila anda ingin bertanya, sharing ataupun berdiskusi, dengan saya
ataupun dengan suami saya.
Pacaran dan Kontak Seksual
Sejak kecil, orang tuaku menekankan bahwa area kelamin adalah jorok,
kotor dan sebagainya. Aku masih ingat ketika masih kecil, ketika aku
memegangi kelaminku, ibuku mengatakan bahwa itu tidak bagus, jorok,
kotor, banyak kuman. Mungkin karena sejak kecil ditanamkan hal
tersebut, maka sampai aku berpacaran, aku tidak pernah masturbasi.
Tidak terlintas dalam pikiranku untuk memikirkan hubungan seksual
atau memainkan alat kelaminku sendiri. Selama aku belum mengenal
suamiku, hampir tidak ada kontak seksual antara aku dan pria.
Aku hanya berpacaran 2 kali. Pertama pada saat duduk di bangku SMA,
yang kedua adalah dengan Abang, suamiku. Pada saat berpacaran untuk
pertama kali, kami berpacaran tidak sungguh-sungguh. Pada saat itu
aku masih tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam berpacaran (aku
anak yang dimanja orang tua, sampai SMP aku masih bersikap layaknya
anak kecil, dan orang tuaku over protective). Hubunganku dengan
pacar pertama hanya singkat saja, hanya berjalan 1 bulan, itupun
tanpa jalan bareng, tanpa datang ke rumah dan lain-lain. Hanya
berpacaran atau bertemu dan mengobrol ala kadarnya di sekolah. Tidak
ada kontak seksual sama sekali dengannya.
Makin lama memang pengetahuanku tentang seksualitas meningkat
seiring dengan usiaku yang bertambah, pada waktu di SMA aku sudah
mengetahui tentang hubungan seksual, akan tetapi aku tidak merasa
tertarik untuk melakukannya. Pernah bersama teman-temanku menonton
film biru. Aku terkaget-kaget menyaksikan adegan itu, karena tidak
mengira ada orang yang mau mempertontonkan alat kelamin mereka dan
memainkannya dengan tangan, mulut, dan terakhir bersenggama. Aku dan
temanku muak melihatnya, hanya beberapa adegan, kemudian kami
mematikan film tersebut dan termangu, dan kami berkomentar bahwa hal
itu menjijikan.
Menonton film (apalagi film porno), mendengar cerita jorok tidak
membuatku ingin melakukan hubungan seksual. Namun seiring dengan
itu, beberapa kali aku ingat bahwa aku bermimpi bermesraan dengan
pria, dan muncul hasrat seksual, akan tetapi kepuasan itu tiba tanpa
adanya hubungan seksual, hanya sekedar bermesraan, atau berpelukan.
Aku tidak ingat berapa kali aku bermimpi seperti itu, tapi yang
jelas tidak terlalu sering, biasanya hal ini datang periodik,
seperti halnya datang bulan. Aku berpikir, mungkin ini disebabkan
siklus hormon dalam diriku saja.
Dengan Abang, demikian panggilanku kepada pacar kedua, yang sekarang
adalah suamiku, lain. Kami berpacaran ketika aku sudah kuliah. Kami
bertemu di kampus. Hubungan kami pun semula biasa saja, sebatas
junior dan senior. Tidak ada perasaan deg-degan ketika bertemu
dengannya, aku juga tidak ngecengin Abang, dan dari pengakuannya,
sebetulnya Abang pada saat itu sebetulnya sedang berusaha mendekati
teman dekatku, Vita.
Hubunganku dengan Abang berjalan cukup lama, kami menikah setelah
kurang lebih 4 tahun berpacaran. Karena Abang lebih dulu lulus, maka
tahun-tahun terakhir berpacaran, kami berbeda lokasi yang lumayan
jauh, yang mana tidak dapat bertemu setiap saat. Namun, selama kami
berada di satu kota, banyak hal yang berkaitan dengan kontak seksual
yang aku dan Abang lakukan selama berpacaran. Dan pengalaman
seksualku dengan Abang adalah pengalaman seksual yang pertama, dan
satu-satunya pria yang kusayangi.
Kontak seksual dengan Abang pertama adalah ketika Abang mencium
keningku. Saat itu aku merasa senang sekali karena aku merasa bahwa
Abang sayang padaku. Sejak saat itu, Abang mulai berani mencium
pipiku. Setiap ada kesempatan, pasti Abang mencium pipiku. Aku
merasa senang bila Abang mencium pipiku. Terkadang aku merinding
geli, dan ada rasa aneh yang menjalar di sekujur badan bila Abang
mencium pipiku lama-lama dan mulai menciumi bagian dekat telinga.
Aku tidak ingat lagi, kapan pertama kali Abang mencium bibirku. Saat
itu aku masih kaku sekali. Abang mencium bibirku, dan aku hanya diam
saja, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Saat itu ciuman di
bibir terasa biasa saja, tidak ada aliran listrik, tidak ada serr.
Biasa saja. Aku malah lebih senang bila Abang mencium kening atau
pipiku. Apalagi kalau mencium pipi lama-lama. Aku jadi bingung,
kenapa banyak yang bilang bahwa ciuman bibir menyenangkan,
menggairahkan dan lain-lain. Aku tidak dapat merasakan
kenikmatannya. Semakin sering berciuman, Abang mengajariku teknik
berciuman. Aku mengambil kesimpulan, aku ikuti apa yang Abang
lakukan terhadap diriku. Kalau Abang mengisap bibirku, maka aku juga
melakukan hal yang sama. Ternyata ciuman bibir begitu menyenangkan
sekali. Aku sangat menyukainya, apalagi bila mulai memainkan lidah.
Ada perasaan nikmat tersendiri ketika aku mengulum bibir dan lidah
Abang.
Saat berciuman, biasanya tangan Abang memeluk diriku sehingga
tangannya melingkari badanku, sehingga tangannya dapat menggosok-
gosok punggungku. Aku sangat menyukainya, karena aku merasa begitu
dekat dengan dirinya. Sejak kecil, memang aku selalu dimanja, oleh
karena itu, aku sangat senang kalau dipeluk, dielus-elus dan
dimanja. Lama-kelamaan, Abang semakin berani, ia tidak hanya
menggosokkan tangannya dari luar baju, akan tetapi mulai masuk
melalui bawah baju atau kaos yang aku pakai dan membelai langsung
kulit punggungku. Semula aku agak risih, tapi lama-lama aku tidak
keberatan, dan malah aku merasa senang sekali. Semakin lama kami
berpacaran, kontak seksual kami semakin seru.
Setelah seringkali kami berciuman, berpelukan dan akhirnya pada
suatu saat, kami bercumbu, dan kami berada dalam posisi aku
terbaring telentang, dengan tubuh Abang berada di atasku. Aku
merasakan sesuatu yang keras di bagian alat kelaminku. Aku tidak
mengerti bahwa yang menempel pada alat kelaminku adalah alat
kelaminnya yang mengeras. Aku hanya merasakan ada kenikmatan ketika
alat kelaminku terkena bagian tubuh Abang yang keras, tanpa sadar
aku biasanya ikut menggoyangkan pinggulku ketika Abang menggoyangkan
pinggulnya menekan lebih kuat bagian tubuhnya ke kelaminku.
Gerakan itu tidak kurencanakan, tapi entah kenapa saat itu aku
menggerakkan pinggulku, walaupun kami masih menggunakan celana
lengkap (aku lebih sering menggunakan celana jeans dari pada rok)
namun aku dapat merasakan nikmat pada diriku. Semakin aku bergoyang,
rasa nikmat itu bertambah, ada rasa nikmat pada alat kelaminku.
Biasanya setelah lama bercumbu seperti itu, Abang mengejang dan
lemas. Aku baru tahu, bahwa saat mengejang itulah Abang orgasme.
Biasanya akan tampak basah di celananya. Aku merasa lega bila Abang
sudah mencapai puncak kepuasan bila sedang bergumul, bukan karena
aku merasa puas, akan tetapi terlepas dari rasa takut dan rasa
bersalah. Aku selalu merasa bahwa ada perasaan yang tidak enak,
perasaan bersalah dan rasa takut, sepertinya aku merasa sangat
berdosa.
Aku serba salah, selama bergumul, aku merasa ada hasrat atau
keinginan yang aneh, kemaluanku sangat nikmat jika tertekan tubuh
Abang. Aku sangat menikmatinya. Beberapa kali, terutama jika aku
mengenakan celana yang berbahan halus, aku bisa mencapai orgasme.
Sebelumnya aku tidak pernah orgasme. Beberapa kali bergumul aku
merasakan orgasme, perasaan yang nikmat luar biasa. Di sisi lain,
setelah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, aku selalu merasa
bersalah, berdosa dan ingin rasanya menyendiri. Oleh karena itu,
setelah orgasme biasanya aku segera melepaskan diri dari dekapan
Abang, dan minta Abang turun dari tubuhku. Hal ini disebabkan aku
ingin menyendiri, tidak ingin bersama Abang, dan menyesal.
Ironisnya, aku tidak tahu apa yang aku sesali. Aku melakukan hal itu
bersama, dan sebetulnya kami tidak melakukan hubungan seksual yang
sebenarnya, jadi tidak harus merasa terlalu bersalah. Akan tetapi
aku sendiri tidak tahu, kenapa perasaan bersalah, berdosa itu selalu
muncul ketika bercumbu berat ataupun setelah orgasme.
Tidak jarang berpikir bahwa aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi
pikiran ini tidak pernah terjadi, aku selalu dan selalu akan
melakukan hal itu lagi tanpa dapat menahan keinginanku. Berkali-kali
itu pula Abang selalu kuminta melepaskan pelukan dan dekapan ketika
aku habis orgasme. Suatu saat Abang bertanya, mengapa aku selalu
menolak atau meminta Abang untuk melepaskan pelukan. Aku berbohong
mengatakan bahwa jika aku orgasme aku merasa kepanasan. Hal ini
berulang kali setiap kami bergumul, dan setiap kali aku orgasme,
dengan penuh perhatian Abang mengipasi diriku dengan majalah, koran
ataupun kipas.
Lama kelamaan aku merasa tidak enak telah berbohong dengan orang
yang aku sayangi. Akhirnya aku mengakui bahwa ada perasaan tidak
enak ketika habis melakukan kontak seksual, apalagi kalau orgasme.
Bahkan terkadang aku merasakan perasaan itu ketika hasrat seksualku
mulai bangkit, ketika sedang bercumbu. Abang mengerti perasaanku,
dan Abang bercerita bahwa sebelumnya Abang juga merasakan hal yang
sama, yaitu perasaan bersalah yang amat sangat setelah bermasturbasi
(lihat pengalaman seksual Abang pada tulisan terdahulu). Abang
bercerita bahwa hal itu dapat hilang dengan sendirinya bila kita
menganggap bahwa hal itu hal yang wajar, biasa saja, dan kita juga
memahami bahwa sebetulnya dorongan seksual adalah normal untuk
setiap manusia. Jadi kita tidak perlu merasa terlalu bersalah untuk
melakukan hal ini (jika dipikir memang apa yang Abang katakan benar,
tapi tentunya hal ini tidak sesuai dengan norma yang ada).
Secara logika aku menerima pendapat Abang, bahwa kebutuhan seksual
adalah salah satu kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi, seperti:
makan, minum, tidur. Perlahan-lahan aku mencoba untuk menerima saran
Abang. Aku berusaha melupakan perasaan bersalah. Abang juga terus
meyakinkan aku dengan menunjukkan kepadaku literatur-literatur serta
tulisan-tulisan yang dia peroleh dari berbagai sumber tentang
kehidupan seksual wanita. Buku pengetahuan tentang seksual Abang,
baik dari dalam maupun luar negeri cukup banyak. Beberapa literatur
diberikannya kepadaku. Perlahan-lahan memang perasaan bersalah itu
berkurang, namun, tetap tidak dapat hilang dari perasaanku. Aku
masih tetap merasakan perasaan bersalah.
Tentang Kelamin Pria
Sejalan dengan umur pacaran kami, kami menjadi lebih berani dalam
bercumbu. Kami menjadi lebih saling terbuka dalam mengungkapkan
masalah-masalah seksual. Ada hal yang amat berharga bagiku, yaitu
bahwa Abang tidak senang bila ia ditolak ketika pergumulan sedang
mulai, biasanya dia akan muram bila pergumulan berjalan setengah dan
terhenti. Hal lain yang aku pelajari adalah bahwa Abang sangat tidak
senang apabila ketika sedang bergumul aku tertawa. Kejadiannya
adalah, Abang selalu berusaha untuk memegang payudaraku ketika
sedang bergumul, entah mengapa, aku tidak dapat menikmatinya, geli
sekali apabila payudaraku diraba.
Suatu kali karena tidak tahan, aku tertawa ketika payudaraku diraba.
Abang marah sekali saat itu. Untunglah Abang mau mengerti bahwa aku
bukan mentertawakan apa yang kita lakukan, akan tetapi karena geli
sekali. Abang mau mengerti, akhirnya Abang mengalah dan tidak lagi
mencoba memegang payudaraku (that’s why I love him, sabar dan mau
mengerti aku). Aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku sangat geli
ketika payudaraku disentuh. Dari cerita-cerita teman-teman maupun
bacaan yang kubaca, aku tahu bahwa biasanya wanita akan sangat
terangsang dan senang bila payudaranya disentuh atau dipegang pada
saat melakukan kontak seksual. Payudara adalah bagian tubuhku yang
paling akhir Abang lihat dan sentuh. Abang malah terlebih dahulu
melihat kemaluanku sebelum melihat payudaraku (lihat tulisan tentang
payudara).Kontak seksual lain yang kami lakukan sebelum menikah
adalah petting. Abang yang memulai mengurangi pakaian yang dikenakan
ketika petting. Semula ia mengatakan bahwa kemaluannya agak sakit
bila mengenakan celana panjang, ia kemudian hanya mengenakan celana
dalam ketika petting, semakin lama, ia memintaku untuk mengganti
celana panjang dengan celana pendek, dengan alasan lebih enak dan
tidak panas. Biasanya kalau kami berduaan, aku langsung mengganti
celana pendek, juga bila aku ke tempat kost Abang karena aku membawa
celana pendek, atau menggunakan celana pendek Abang. Selain lebih
enak, juga biar dapat dengan segera melayani Abang tanpa harus
menunda gejolak dengan mengganti celana dulu. Biasanya nafsuku dapat
langsung hilang bila ada sesuatu yang menunda. Lama-kelamaan aku
mulai melepas celana pendek dan hanya menggunakan celana dalam saja.
Hal ini kulakukan selain aku semakin sayang dan percaya sama Abang,
aku lebih senang karena sentuhan kulit dengan kulit semakin terasa.
Suatu kali, ada pengalaman yang sangat menarik, yaitu ketika itu
siang hari, dan kami ingin tidur siang bersama (benar-benar tidur).
Abang mengatakan bahwa ia ingin membuka celana dalamnya, hal ini
memang kebiasaan Abang tidur. Dia mengatakan bahwa Abang punya
kebiasaan membuka celana sama sekali ketika tidur. Waktu itu aku
tidak percaya, dan tidak mengerti mengapa, aku mengira bahwa Abang
mengada-ada. Saat itu aku hanya bilang terserah Abang, dan aku
segera masuk selimut dan berbaring miring memunggungi Abang. Tidak
lama kemudian Abang berbaring sambil memelukku dari belakang. Aku
pegang tangannya, Tidak seperti biasanya, ketika kakiku bergerak,
ada perasaan aneh di sekitar pahaku (aku hanya mengenakan celana
pendek waktu tidur saat itu). Ada seperti menyentuh rambut halus,
dan ada seperti benda Aneh. Aku sukar menggambarkannya, akan tetapi
aku berpikir, pasti itu adalah alat kelamin Abang. Aku kaget sekali,
dan aku langsung bertanya ke Abang, apakah dia jadi membuka
celananya. Abang mengiyakan. Aku terheran-heran.
Kemudian Abang bercerita tentang kondisi kemaluannya, ia bercerita
bahwa ia disunat dan seterusnya. Pada waktu itu yang menarik adalah
bahwa Abang menawarkan untuk memperlihatkan kemaluannya kepadaku.
Aku saat itu sebetulnya ingin sekali melihat, akan tetapi malu untuk
memintanya. Abang sepertinya tahu, lalu aku diminta berbaring di
dadanya, (aku suka sekali berbaring di dadanya) dengan kepala
menengok ke arah kakinya (bayangkan apabila anda bersama pasangan
anda berjalan berdua, lalu tangan laki-laki merangkul, seperti
itulah kami berbaring, tapi saat ini kepalaku bertumpu pada
dadanya), lalu Abang menyingkapkan selimut yang menutupi
kemaluannya, dan dari balik selimut aku melihat benda yang belum
pernah kulihat (live show) sebelumnya, kelamin pria dewasa.
Aneh rasanya melihat kelamin pria, aku sama sekali tidak terangsang,
namun aku tertarik sekali dan ingin melihat lebih jelas. Lalu dengan
masih berbaring, Abang menjelaskan kepadaku bagian-bagian, nama-
namanya, gunanya dan lain-lain. Ia juga memperlihatkan luka bekas
sunat. Ia menceritakan banyak tentang alat kelaminnya. Aku senang
sekali mendapatkan pengetahuan baru tentang seksualitas. Alat
kelamin pria! Saat itu alat kelamin Abang kulihat jelek sekali,
keriput hitam dan ada urat-uratnya, ditambah lagi rambut keriting
yang ada di sekitar batang hitam itu. Aku sama sekali tidak tertarik
secara seksual melihat kemaluannya.
Abang juga menawarkan kalau ingin menyentuh alat kelaminnya. Aku
sedikit bingung, antara mau tahu, malu dan juga agak jijik. Aku
hanya menutupkan mata dan menggidikkan wajah. Abang seakan tahu
bahwa aku sedang bimbang, maka dia memegang tanganku, dan
dibimbingnya tanganku ke kelaminnya. Saat itu tanganku terkepal
kuat, namun Abang tetap menyentuhkan jariku ke kelaminnya dengan
lembut. Ada suatu yang lembut kurasa di jari-jariku. Perlahan kubuka
kepalan tangan, dan Abang tidak lagi memegang tanganku dengan kuat,
tapi memegang dengan lembut dan membimbing tanganku menyentuh
kelaminnya. Aku pun pelan-pelan mulai melihat tanganku yang sedang
menyentuh alat kelaminnya. Aneh, benda jelek seperti ini mempunyai
kulit yang sangat lembut. Di dalam scrotum-nya tampak dua bola yang
bergerak-gerak.
Aku memberanikan diri untuk memegang batang kemaluannya setelah
bertanya apakah akan sakit atau tidak. Aku memegangnya dengan dua
jariku. Aku melihat-lihat dan membalik-balikkan batang kelamin
Abang, (jeleknya kelamin pria ini, pikirku saat itu). Abang berkata
bahwa ia senang sekali karena aku mau memegangnya. Saat itu aku
berterima kasih sekali karena Abang mau menunjukkan sesuatu yang
baru kuketahui, yang sebetulnya sudah lama aku ingin tahu, seperti
apa sih alat kelamin pria itu. Saat ini aku melihat dengan mata
kepalaku sendiri, bukan hanya melihat, tapi menyentuh, dan
memegangnya. Aku pun tahu nama dan guna bagian dari alat kelamin
pria, bukan hanya teori, tapi langsung melihat dan menyentuhnya.
Saat itu aku merasa senang sekali. Siang itu kami tidak melakukan
petting, tapi kami tidur siang berdua, aku tetap berbaring dengan
kepala bersandar di dadanya, dan tertidur ketika aku masih
memandangi dan memegang mainan baruku.
Sejak aku melihat dan memegang alat kelamin Abang, Abang tambah
membekaliku dengan berbagai pengetahuan tentang kontak seksual.
Abang mengajariku untuk memanipulasi alat kelamin pria yang benar.
Abang mengatakan bahwa pria amat senang apabila wanita memegang alat
kelaminnya. Aku tertarik sekali, dan kebetulan setelah berkali-kali
aku memegang dan melihatnya, aku tertarik untuk memegangnya. Adalah
hal yang menarik dan lucu melihat alat kelamin pria yang tadinya
lemas, dan kecil terkulai, bisa menjadi batang keras, besar yang
tegak. Tidak jarang batang kemaluan Abang berdenyut. Aku suka sekali
sensasi ketika memegang batang kemaluan Abang dan batang kemaluan
tersebut berdenyut.
Dari Abang aku diajari cara untuk memegang batang kemaluan secara
benar, membelai dan memainkan scrotum yang menyenangkan tapi tidak
menyakitkan, aku juga tahu bahwa bagian kepala sangat sensitif jadi
sebaiknya tidak dengan gesekan yang terlalu kuat. Saat itu, aku
menjadi suka sekali dengan batang kemaluan, terutama memainkannya
dengan tanganku. Abang akan menggeliat kenikmatan apabila batang
kemaluannya kupelintir-pelintir seperti melinting rokok. Tidak
jarang aku sengaja membuka retsleting dan memegangi kelamin Abang
ketika di dalam mobil (biasanya malam-malam). Aku menjadi senang
memegang batang kemaluan, gemas rasanya memainkan batang kemaluan
pria.
Biasanya apabila aku sedang memainkan batang kemaluan Abang,
hasratku muncul, dan biasanya akan dilanjutkan dengan petting yang
diakhiri dengan orgasme Abang dalam perasan tanganku. Pada
kesempatan itulah aku juga tahu tentang sperma yang keluar dari
batang kemaluan, rasanya pekat, lengket, berwarna putih dan hangat.
Cairan sperma sangat kental dan kalau tidak ditutup atau dihalangi
dapat menyemprot keluar jauh sekali. Jadi, setiap Abang mau orgasme,
biasanya aku menutupi lubang kelaminnya dengan tissue atau celana
dalamnya. Aku lebih senang menutupi dan melap dengan celana
dalamnya, karena bila dengan tissue, biasanya tissue akan lengket di
tanganku, atau di kelamin Abang.
Tidak seperti yang diceritakan di buku porno ataupun cerita-cerita
porno, sperma Abang tidak berbau sama sekali, tapi memang repot juga
kalau sudah mau orgasme, sibuk mencari tissue atau celana dalam
(tapi aku senang lho). Entah kenapa, aku selalu merasa senang sekali
kalau Abang orgasme. Kalaupun aku tidak mengalami orgasme, akan
tetapi aku sangat senang dan bahagia melihat Abang orgasme. Hal ini
memang tidak terlalu sering terjadi, karena biasanya bila melakukan
petting, aku akan orgasme terlebih dahulu, baru kemudian Abang akan
orgasme setelah melakukan petting lagi denganku atau dengan aku
memijat dan meremas batang kemaluannya.
Petting dan Oral Seks
Pengalamanku bertambah lagi setelah aku mulai berani mencium batang
kemaluan Abang. Semula aku ragu-ragu, karena aku masih berpendapat
bahwa kelamin itu jorok. Namun setelah Abang berulangkali
meyakiniku, bahwa alat kelamin tidak jorok, dan hampir sama dengan
anggota tubuh yang lain, maka aku perlahan-lahan mulai memberanikan
diri.
Semula aku hanya mau mencium dengan menempelkan bibir saja. Hal itu
setelah dipaksa oleh Abang. Tapi lama-lama, aku terbiasa, dan ada
daya tarik sendiri, entah apa. Aku menjadi suka menciumi batang
kemaluan Abang. Aku lalu bertanya, sebetulnya apa yang disukai
Abang. Abang memberikan contoh yang diinginkan dengan jarinya, tapi
gambaran tentang cara yang disukai Abang baru jelas setelah Abang
memberi contoh dengan pisang. Ya, alat peraganya pisang, dan sangat
efektif dalam memberikan pelajaran kepadaku. Abang menjelaskan bahwa
ketika aku melakukan oral seks, terkadang gigiku menyentuh kulitnya.
Hal ini tidak menyenangkan. Abang mencontohkan caranya supaya tidak
ada bekas gigi di kulit pisang. Dan hasilnya? Luar biasa. Aku
sendiri terkagum-kagum atas dampak yang aku lakukan ketika
mempraktekan hisapanku. Abang begitu menikmatinya, menggelinjang dan
mendesah-desah. Aku tidak pernah melihat Abang menikmati kontak
seksual seperti saat itu.
Oleh karena itu aku sangat menyukai oral seks, dan sejak itu aku
terbiasa dengan oral seks. Aku dapat melakukannya dengan baik, aku
biasa melakukannya di mobil, di kamar, dan di mana saja ada
kesempatan. Aku suka sekali melihat Abang menggelinjang kenikmatan,
aku suka sekali melihat dan merasakan batang kemaluan Abang
bergerak-gerak ketika dirangsang. Biasanya batang kemaluan Abang
akan sangat cepat ereksi bila aku menghisap kepala batang kemaluan,
dan memainkan lidahku di kepala batang kemaluan seperti sedang
menghisap permen kojak (tahu kan, permen bundar yang ada gagangnya).
Setelah sering kami melakukan petting atau oral seks, dengan keadaan
Abang bugil, dan aku hanya mengenakan pakaian dalamku, lama-lama aku
berani juga membuka celana dalamku ketika petting. Hal ini aku
beranikan setelah mendengar cerita Abang tentang temannya yang suka
melakukan petting dengan pacarnya tanpa mengenakan apapun, tapi
tidak melakukan penetrasi. Aku tertarik juga, lagi pula selama ini
Abang suka memasukkan kelaminnya ke celana dalamku, jadi sama saja.
Akhirnya pada suatu saat aku membiarkan Abang membuka celana
dalamku.
Semula aku masih malu dan menutupi kemaluanku dengan tangan bila
Abang melihat ke arah kelaminku. Aku juga masih belum memberikan
kesempatan kepada Abang untuk memegang alat kelaminku. Tapi itu
tidak bertahan lama. Lama-kelamaan kepercayaanku kepada Abang
semakin meningkat dan membiarkan Abang melihat dan memegang alat
kelaminku. Aneh rasanya alat kelaminku dipegang orang, berarti Abang
adalah orang asing pertama yang memegang alat kelaminku. Aku kurang
begitu senang bila alat kelaminku dipegang, apalagi kalau masih
kering. Lubang kemaluanku memang sulit basah. Terkadang bisa kering
dengan cepat kalau rangsangan tiba-tiba hilang. Karena aku sering
mengeluh, akhirnya Abang jarang memegang dan menyentuh kelaminku
lagi. Padahal sebetulnya nikmat juga kalau sudah terangsang.
Suatu saat, kami sedang bercumbu dan aku hanya mengenakan BH-ku
saja, kemudian Abang menciumi badanku. Aku sangat menyukai bila
Abang mulai menciumi seluruh tubuhku, terasa geli tapi nikmat.
Ciuman Abang mulai turun ke bawah, aku tahu, pasti Abang akan
melakukan oral seks terhadap diriku. Aku menolak, dan mati-matian
aku tidak mau Abang melakukan oral seks kepada diriku. Aku tidak mau
Abang kecewa setelah melakukan oral seks kepada diriku. Aku takut
Abang mencium bau yang tidak sedap di area kewanitaanku. Aku tidak
mau Abang menciumi daerah tubuhku yang kotor. Aku selalu meminta
Abang untuk langsung memelukku dan melakukan petting seperti biasa,
hanya dengan cara seperti ini aku berusaha merayu Abang untuk tidak
melakukan oral seks, tapi tetap melakukan kontak seksual. Lama-
kelamaan, Abang bertanya, mengapa aku menolak. Aku mengatakan
sejujurnya tentang pandanganku. Abang tertawa mendengar
penjelasanku, dan ia kembali memberikan penjelasan kepadaku tentang
oral seks. Tidak lupa ia selalu memberikan literatur-literatur
tentang oral seks dan menerangkan kepadaku dengan sabar.
Suatu saat, setelah aku yakin, aku membiarkan Abang melakukan oral
seks kepada diriku. Ternyata luar biasa! Aku tidak dapat
mengungkapkan perasaan nikmat yang kurasakan ketika Abang melakukan
oral seks. Biasanya aku hanya bisa menggelinjang, meremas bantal
atau memeluk bantal erat-erat ketika Abang memainkan lidahnya di
sekitar bibir kemaluan atau di klitorisku. Sensasional sekali.
Sayangnya aku tidak dapat mendekap tubuh Abang ketika Abang sedang
melakukan oral seks. Aku merasa bahwa aku tidak akan bisa orgasme
kalau aku tidak memeluk Abang. Maka biasanya bila kenikmatan begitu
memuncak, aku menarik Abang untuk melakukan petting seperti biasa
dan kemudian tidak lama kemudian aku akan mendapat orgasme.Sejak
berpacaran dan bercumbu dengan Abang, aku mulai seringkali merasa
gairah seksualku meningkat. Aku sering merasa ingin dipeluk, dicumbu
dan melakukan kontak seksual dengan Abang. Aku seringkali berpikir
bercumbu dengan Abang dan aku bermasturbasi. Banyak cara
bermasturbasi, Abang mengajariku berbagai macam cara bermasturbasi,
tapi aku lebih senang memeluk bantal guling, dengan aku berada di
atas guling, aku menggerak-gerakkan pinggulku menggesekkan klitoris
pada bantal guling sampai orgasme. Posisi seperti menunggang kuda
ini memang amat sering membuatku orgasme. Hampir 90% orgasmeku, baik
masturbasi maupun kontak seksual dengan Abang aku dapatkan dengan
posisi seperti ini. Posisi ini memang memungkinkan aku menentukan
sendiri daerah mana yang lebih enak digesekkan, dan seberapa besar
gesekan yang pas.
Dalam bermasturbasi, aku selalu membayangkan Abang di bawah, dan aku
berada di atasnya. Aku juga pernah mencoba menggunakan shower air
hangat, rasanya menyenangkan dan mengasyikan, tapi tekanan air aku
anggap masih kurang pas buatku, aku tidak dapat orgasme dengan
menggunakan teknik pancuran ini. Aku juga tidak suka menggunakan
tangan, karena kurang nyaman bila memegang daerah klitoris.
Aku menyesal baru mengetahui masturbasi setelah mengenal Abang.
Karena jika aku sudah mengenal masturbasi sejak dulu, tentunya aku
lebih dulu merasakan kenikmatan ini. Saat ini, aku terus
melakukannya bila kangen dengan Abang, hasratku meninggi. Apalagi
aku dan Abang berada di lain kota, maka masturbasi memang jalan
keluar yang terbaik untuk melepas keinginan seksualku. Terkadang aku
menjadi sangat terangsang bila Abang mengatakan di telepon bahwa
batang kemaluannya sedang ereksi, atau Abang sedang merayu-rayuku.
Setelah meneleponku, aku mulai merangsang klitorisku dengan
menggesek-gesekkan daerah kelaminku ke bantal guling.
Tidak seperti wanita lain yang kubaca di literatur atau buku-buku,
aku adalah wanita yang cepat sekali mendapat orgasme. Dengan Abang,
aku hampir selalu orgasme, apalagi dengan posisi aku berada di atas.
Aku selalu merasakan puncak kenikmatan seksual yang amat sangat
menyenangkan bila kontak seksual dengan posisi ini. Dalam satu kali
melakukan kontak seksual ataupun masturbasi, aku hanya bisa orgasme
satu kali. Sulit sekali untuk mendapatkan orgasme yang kedua apalagi
ketiga. Aku harus menunggu lama sekali, biasanya melakukan aktivitas
dulu baru bisa orgasme lagi. Itupun hanya satu kali. Tetapi bagiku
ini bukan suatu masalah. Aku sudah cukup beruntung dapat menikmati
kenikmatan surgawi yang luar biasa hampir di setiap kontak seksual.
Aku tidak dapat membayangkan wanita lain yang tidak pernah mengalami
orgasme, aku tidak dapat membayangkan kehidupan seksual mereka yang
kurang menyenangkan. Bagiku orgasme adalah sangat penting. Ada hal
penting yang menggoda diriku, bahwa aku tidak pernah mengeluarkan
cairan saat orgasme. Memang kemaluanku terasa basah bila terangsang,
akan tetapi tidak pernah mengeluarkan cairan seperti layaknya Abang
mengeluarkan sperma saat ejakulasi. Namun aku selalu merasakan
kepuasan yang luar biasa saat aku orgasme. Menurut Abang hal itu
biasa pada wanita, bahkan menurut Abang, pacar-pacarnya dulu juga
tidak pernah ejakulasi ketika orgasme.
Hal lain yang aku sering lakukan adalah bahwa memang aku seringkali
tidak membutuhkan atau tidak menginginkan orgasme pada setiap kontak
seksual, terkadang aku hanya ingin melayani Abang. Hal ini tampaknya
sulit dimengerti oleh Abang. Abang seringkali memaksakan diri agar
aku mengalami orgasme setiap melakukan kontak seksual. Padahal,
terkadang aku sangat puas hanya dengan melayani Abang, bukan
kepuasan seksual, tapi kepuasan psikologis dapat melayani dan
memberikan kepuasan surgawi kepada pasangan yang amat kusayangi.
Keperawanan dan Hubungan Seksual
Aku selalu berusaha menjaga keperawananku. Aku berprinsip bahwa aku
tidak ingin melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Aku ingin
memberikan kesucianku kepada suamiku. Keinginanku hanya setengah
terkabul. Memang yang memerawaniku adalah Abang, akan tetapi sebelum
pernikahan, kira-kira 5 minggu sebelum pernikahan kami. Saat itu
kami sedang melakukan petting seperti biasa. Sebelum petting kami
berdiskusi tentang malam pengantin kami, keperawanan dan impian kami
dalam menikmati malam pertama. Aku menceritakan ketakutanku
menghadapi malam pertama. Aku tidak dapat membayangkan batang
kemaluan Abang (yang menurut ukuranku besar) akan memasuki
kewanitaanku yang sangat kecil. Aku juga membayangkan kalau batang
kemaluan Abang yang keras memasuki lubang kewanitaanku, tentunya
menyakitkan.
Aku banyak mendengar dari teman-teman kuliah yang sudah menikah,
atau dari pengalaman orang lain bahwa hubungan seksual pertama kali
akan menyakitkan, ada yang sampai tidak bisa berjalan, sakit selama
satu bulan, dan lain-lain. Ketakutan itu begitu menghantui diriku.
Di satu sisi, aku memang amat ingin merasakan hubungan seksual yang
menurut banyak orang begitu nikmat, akan tetapi aku takut untuk
melakukan yang pertama. Jika Abang bertanya kepadaku, apakah aku
ingin melakukan hubungan seksual di malam pertama atau tidak, aku
bingung. Aku sempat mengatakan sebetulnya aku ingin sudah tidak
perawan saat malam pertama, agar aku dapat menikmatinya tanpa sakit.
Rupanya Abang salam paham dengan pernyataanku ini. Maka pada malam
itu, ketika petting, Abang bertanya apakah batang kemaluannya boleh
dimasukkan. Aku saat itu ragu-ragu, antara ingin dan tidak. Aku
tidak mengatakan apa-apa, tapi tidak lama setelah batang kemaluan
Abang menggesek-gesek kemaluanku dari luar, aku merasakan sesuatu
yang memasuki lubang kewanitaanku. Agak nyeri, dan aku tahu bahwa
Abang telah memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang
kewanitaanku. “Abang..! Jangan Abang..” Bisikku saat itu, Abang
seolah tidak mendengar dan aku merasakan batang kemaluannya semakin
dalam masuk ke dalam liang senggamaku seiring dengan gerakan pinggul
Abang. Aku menolak Abang, saat itu kuputuskan aku tidak ingin
melakukannya dahulu, dan aku merasakan sakit pada lubang
kewanitaanku.
Karena aku mendorongnya, aku merasakan batang kemaluannya tercabut
dari liang kewanitaanku. Agak nyeri, ada perasaan seperti benda yang
memaksa masuk, dan ada sensasi seperti (maaf) saat kotoran yang
keluar di saat buang air besar, tapi sensasi ini di lubang
kewanitaanku. Abang tetap memeluk, dan saat itu bersamaan dengan
orgasmenya. Aku merasa lega, karena bersamaan dengan Abang orgasme.
Aku pun memeluknya dengan erat.
Setelah Abang melepaskan diri, karena ingin membersihkan tumpahan
sperma di kasur, aku melihat ada tetesan darah di paha dan rambut
kemaluanku, dan juga di sprei bersama tumpahan sperma Abang. Saat
itu aku berpikir bahwa aku dapat haid, karena memang sudah saatnya
aku datang bulan. Rangsangan seksual tentunya membantu keluarnya
darah, pikirku. Segera Aku membersihkan noda darah di sprei dan di
sekitar kemaluanku dengan tissue, Kemaluan Abang juga aku bersihkan
dengan tissue. Saat itu masih terasa sensasi adanya barang yang
masuk di kemaluanku walaupun sudah tidak ada apa-apa lagi.
Setelah bersih-bersih, dan menghabiskan waktu, sore hari aku
memeriksa pembalut wanitaku. Ternyata tidak ada lagi darah keluar.
Padahal biasanya pendarahan di hari pertama lumayan banyak. Aku
menyampaikan hal ini ke Abang. Abang hanya terdiam, dan dia
mengatakan bahwa ada kemungkinan aku sudah tidak perawan lagi.
Aneh, aku tidak merasa menyesal, sedih, atau apapun. Aku hanya
berpikiran bahwa kalaupun itu adalah darah perawanku, aku tidak
menyesal karena aku berikan kepada Abang, yang saat itu sudah
kuanggap sebagai suami (karena tinggal 5 minggu lagi kami akan
menikah). Aku hanya khawatir bahwa darah tersebut bukan karena
sobeknya selaput dara, akan tetapi karena gangguan dalam rahimku.
Pikiran ini terus menghantui diriku sampai seminggu setelah itu.
Untungnya Abang bisa meyakinkanku bahwa bukan kelainan, akan tetapi
akibat sobeknya selaput keperawananku. Kami sepakat bahwa akan kita
lihat pada malam pertama. Jika ternyata aku tidak berdarah lagi,
berarti itu adalah akibat sobeknya selaput dara, akan tetapi bila
berdarah, ada kemungkinan dari sebab lain. Kami sangat berdebar
menunggu hari H. Sampai hari H, kami tidak pernah melakukan lagi,
bahkan petting pun jarang kami lakukan. Selain sibuk, aktifitas
seksual kami lakukan hanya dengan melakukan petting saja.
Tidak terasa, hari yang ditunggu tiba. Acara pernikahan berlangsung
lancar. Aku begitu terharu, begitu juga Abang. Malam pertama kami
lewatkan di sebuah hotel. Kami merasa senang sekali, saat mandi,
kami mandi berdua, saling menyabuni satu sama lain, begitu
menyenangkan. Saat itu juga kami saling mencukur bulu kelamin satu
sama lain sampai benar-benar mulus (namun kami berdua sepakat bahwa
kami tidak akan mencukur lagi sampai mulus karena amat sangat tidak
nyaman ketika rambut-rambut itu tumbuh kembali).
Setelah acara dengan keluarga terdekat selesai dan kami kembali ke
hotel, Aku langsung memeluk Abang, mencium pipinya. Berjuta
perasaanku saat itu, senang, takut, terharu, lelah, namun ada hal
yang amat kusukai, bahwa akhirnya kami berdua bisa menikah dan
menjadi suami-isteri. Aku memaksa Abang untuk melakukan malam
pertama kami malam itu, semula Abang mengalah dan tidak ingin aku
terpaksa karena lelah. Tapi aku memaksa karena aku tidak ingin
suamiku tidak merasakan malam pertama, yang ditunggu-tunggu. Abang
kemudian mencumbuku, setelah batang kemaluannya tegak sempurna dan
sangat keras (hasil latihannya sebelum menikah membuat batang
kemaluannya keras luar biasa. Aku sempat takut tapi terkagum-kagum).
Sebelum memasukkan batang kemaluannya, aku menuangkan sedikit baby
oil ke lubang kenikmatanku, dan aku juga menuangkannya di batang
kemaluan Abang (baby oil ini ide Abang, supaya aku tidak merasa
sakit saat pertama kali berhubungan seksual, karena menurut Abang,
sakit atau tidak tergantung dari lubrikasi lubang kemaluan). Aku
menutup mataku, dan berdebar, sangat takut. Berjuta perasaan ada
dalam pikiranku, namun aku berusaha tetap tampak tenang. Tidak lama
kemudian, aku merasakan batang kemaluan Abang menyentuh bibir
kemaluanku. Dimain-mainkannya ujung batang kemaluan di bibir
kewanitaanku. Aku menjadi semakin senewen. Saat itu Abang terus
menciumi pipi, leher, kuping sambil terus memainkan ujung batang
kemaluan di bibir kemaluanku. Aku menjadi bernafsu, dan mulai
mengulum bibir Abang.
Tidak lama kemudian, aku merasakan kemaluanku terasa sedikit panas,
dan penuh saat batang kemaluan Abang memasuki lubang kemaluanku. Aku
tersentak, ingin rasanya mendorong Abang. Untung tidak aku lakukan,
aku malah memeluknya keras. Namun aku tidak dapat menahan
rintihanku. Aku hampir menangis ketika Abang berhenti melakukannya
dan berkata ingin mencabut kalau aku merasa sakit (Abang begitu
perhatian dan sayang padaku, sampai-sampai Abang mau berhenti
melakukan kenikmatan malam pertama untukku). Aku begitu terharu, dan
aku memintanya untuk meneruskannya. Aku tidak dapat menikmati malam
pertamaku. Sakit, dan ada sensasi seperti saat membuang air di
kemaluanku saat batang kemaluan Abang keluar masuk. Aku tidak
orgasme selama dua malam, tapi aku sangat puas.
Dari malam pertama aku tahu bahwa selaput daraku sudah sobek 5
minggu sebelum pernikahan. Rasa sakit, sepertinya bukan karena
sobeknya selaput dara, akan tetapi karena belum terbiasanya lubang
kewanitaanku menerima batang kemaluan dan lubrikasi yang kurang.
Hari ketiga, ketika sudah kesekian kalinya kami melakukan hubungan
badan, aku mendapatkan orgasme pertamaku yang aku dapat saat
melakukan hubungan seksual. Seperti biasa, aku mencapai kenikmatan
luar biasa tersebut dengan posisiku di atas. Ada sensasi yang sangat
berbeda ketika aku orgasme dengan adanya batang kemaluan yang masih
berada dalam liang senggamaku, luar biasa. Sejak saat itu, aku sudah
mulai menyukai, amat menyukai, bahkan tergila-gila melakukan
hubungan seksual dengan Abang. Begitu menyenangkan dan nikmat
sekali. Aku pun lama-lama dapat berhubungan seksual tanpa harus
menggunakan baby oil. Saat ini sudah beberapa posisi yang kami coba.
Dari semua posisi, aku sangat menyukai dua posisi Missionary: Abang
di atas dan memelukku, atau aku di atas dan memeluk Abang dari atas.
Posisi terakhir ini yang pasti membuatku orgasme.
Hasil latihan Abang memperkeras batang kemaluannya dan menahan
orgasme membuatku sangat tergila-gila untuk selalu melakukan
hubungan seksual. Saat aku tidak bersama Abang, biasanya aku
bermasturbasi dan membayangkan saat batang kemaluan Abang memasuki
lubang kewanitaanku. Sungguh, menurutku tidak ada hal lain yang amat
menyenangkan diriku saat aku orgasme ketika melakukan hubungan
seksual dengan Abang. Latihan Keggel yang kujalani ternyata dapat
membantuku mencapai orgasme dan juga menurut Abang menambah nikmat
hubungan seksual ketika aku melakukan kontraksi otot-otot yang aku
latih dengan latihan Keggel.
Aku saat ini merasa bahwa aku adalah wanita paling bahagia di dunia,
karena aku mempunyai suami yang baik, pengertian, sabar, dapat
memenuhi nafsu seksualku yang tidak pernah padam, dan aku termasuk
di antara sedikit wanita yang pernah dan sering mengalami orgasme
ketika berhubungan seksual. Oleh karena itu, bila anda ingin
bertanya, berbagi pengalaman, ingin tips-tips, kritik dan lainnya,
silakan Anda menghubungi saya atau suami saya melalui e-mail. Kami
berdua akan sangat senang berkomunikasi dengan Anda semua. Semoga
tulisan ini dapat berguna.



