Rabu, 30 Desember 2009

Pengalaman Seorang Istri

By sebastian | September 24, 2007

Setelah didesak oleh suamiku, dengan alasan bahwa tidak ada salahnya

berbagi pengalaman agar rekan-rekan dapat melihat dan menambah

pengetahuan tentang kehidupan seksual kami, akhirnya aku mau juga

menceritakan pengalaman seksualku, dengan syarat bahwa tidak ada

nama sesungguhnya. Saat ini jika anda membaca tulisan ini, suami

sayalah yang menulis serta meramu menjadi suatu tulisan, saya hanya

bercerita tentang pengalaman, perasaan dan pikiran saya. Silakan

apabila anda ingin bertanya, sharing ataupun berdiskusi, dengan saya

ataupun dengan suami saya.

Pacaran dan Kontak Seksual

Sejak kecil, orang tuaku menekankan bahwa area kelamin adalah jorok,

kotor dan sebagainya. Aku masih ingat ketika masih kecil, ketika aku

memegangi kelaminku, ibuku mengatakan bahwa itu tidak bagus, jorok,

kotor, banyak kuman. Mungkin karena sejak kecil ditanamkan hal

tersebut, maka sampai aku berpacaran, aku tidak pernah masturbasi.

Tidak terlintas dalam pikiranku untuk memikirkan hubungan seksual

atau memainkan alat kelaminku sendiri. Selama aku belum mengenal

suamiku, hampir tidak ada kontak seksual antara aku dan pria.

Aku hanya berpacaran 2 kali. Pertama pada saat duduk di bangku SMA,

yang kedua adalah dengan Abang, suamiku. Pada saat berpacaran untuk

pertama kali, kami berpacaran tidak sungguh-sungguh. Pada saat itu

aku masih tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam berpacaran (aku

anak yang dimanja orang tua, sampai SMP aku masih bersikap layaknya

anak kecil, dan orang tuaku over protective). Hubunganku dengan

pacar pertama hanya singkat saja, hanya berjalan 1 bulan, itupun

tanpa jalan bareng, tanpa datang ke rumah dan lain-lain. Hanya

berpacaran atau bertemu dan mengobrol ala kadarnya di sekolah. Tidak

ada kontak seksual sama sekali dengannya.

Makin lama memang pengetahuanku tentang seksualitas meningkat

seiring dengan usiaku yang bertambah, pada waktu di SMA aku sudah

mengetahui tentang hubungan seksual, akan tetapi aku tidak merasa

tertarik untuk melakukannya. Pernah bersama teman-temanku menonton

film biru. Aku terkaget-kaget menyaksikan adegan itu, karena tidak

mengira ada orang yang mau mempertontonkan alat kelamin mereka dan

memainkannya dengan tangan, mulut, dan terakhir bersenggama. Aku dan

temanku muak melihatnya, hanya beberapa adegan, kemudian kami

mematikan film tersebut dan termangu, dan kami berkomentar bahwa hal

itu menjijikan.

Menonton film (apalagi film porno), mendengar cerita jorok tidak

membuatku ingin melakukan hubungan seksual. Namun seiring dengan

itu, beberapa kali aku ingat bahwa aku bermimpi bermesraan dengan

pria, dan muncul hasrat seksual, akan tetapi kepuasan itu tiba tanpa

adanya hubungan seksual, hanya sekedar bermesraan, atau berpelukan.

Aku tidak ingat berapa kali aku bermimpi seperti itu, tapi yang

jelas tidak terlalu sering, biasanya hal ini datang periodik,

seperti halnya datang bulan. Aku berpikir, mungkin ini disebabkan

siklus hormon dalam diriku saja.

Dengan Abang, demikian panggilanku kepada pacar kedua, yang sekarang

adalah suamiku, lain. Kami berpacaran ketika aku sudah kuliah. Kami

bertemu di kampus. Hubungan kami pun semula biasa saja, sebatas

junior dan senior. Tidak ada perasaan deg-degan ketika bertemu

dengannya, aku juga tidak ngecengin Abang, dan dari pengakuannya,

sebetulnya Abang pada saat itu sebetulnya sedang berusaha mendekati

teman dekatku, Vita.

Hubunganku dengan Abang berjalan cukup lama, kami menikah setelah

kurang lebih 4 tahun berpacaran. Karena Abang lebih dulu lulus, maka

tahun-tahun terakhir berpacaran, kami berbeda lokasi yang lumayan

jauh, yang mana tidak dapat bertemu setiap saat. Namun, selama kami

berada di satu kota, banyak hal yang berkaitan dengan kontak seksual

yang aku dan Abang lakukan selama berpacaran. Dan pengalaman

seksualku dengan Abang adalah pengalaman seksual yang pertama, dan

satu-satunya pria yang kusayangi.

Kontak seksual dengan Abang pertama adalah ketika Abang mencium

keningku. Saat itu aku merasa senang sekali karena aku merasa bahwa

Abang sayang padaku. Sejak saat itu, Abang mulai berani mencium

pipiku. Setiap ada kesempatan, pasti Abang mencium pipiku. Aku

merasa senang bila Abang mencium pipiku. Terkadang aku merinding

geli, dan ada rasa aneh yang menjalar di sekujur badan bila Abang

mencium pipiku lama-lama dan mulai menciumi bagian dekat telinga.

Aku tidak ingat lagi, kapan pertama kali Abang mencium bibirku. Saat

itu aku masih kaku sekali. Abang mencium bibirku, dan aku hanya diam

saja, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Saat itu ciuman di

bibir terasa biasa saja, tidak ada aliran listrik, tidak ada serr.

Biasa saja. Aku malah lebih senang bila Abang mencium kening atau

pipiku. Apalagi kalau mencium pipi lama-lama. Aku jadi bingung,

kenapa banyak yang bilang bahwa ciuman bibir menyenangkan,

menggairahkan dan lain-lain. Aku tidak dapat merasakan

kenikmatannya. Semakin sering berciuman, Abang mengajariku teknik

berciuman. Aku mengambil kesimpulan, aku ikuti apa yang Abang

lakukan terhadap diriku. Kalau Abang mengisap bibirku, maka aku juga

melakukan hal yang sama. Ternyata ciuman bibir begitu menyenangkan

sekali. Aku sangat menyukainya, apalagi bila mulai memainkan lidah.

Ada perasaan nikmat tersendiri ketika aku mengulum bibir dan lidah

Abang.

Saat berciuman, biasanya tangan Abang memeluk diriku sehingga

tangannya melingkari badanku, sehingga tangannya dapat menggosok-

gosok punggungku. Aku sangat menyukainya, karena aku merasa begitu

dekat dengan dirinya. Sejak kecil, memang aku selalu dimanja, oleh

karena itu, aku sangat senang kalau dipeluk, dielus-elus dan

dimanja. Lama-kelamaan, Abang semakin berani, ia tidak hanya

menggosokkan tangannya dari luar baju, akan tetapi mulai masuk

melalui bawah baju atau kaos yang aku pakai dan membelai langsung

kulit punggungku. Semula aku agak risih, tapi lama-lama aku tidak

keberatan, dan malah aku merasa senang sekali. Semakin lama kami

berpacaran, kontak seksual kami semakin seru.

Setelah seringkali kami berciuman, berpelukan dan akhirnya pada

suatu saat, kami bercumbu, dan kami berada dalam posisi aku

terbaring telentang, dengan tubuh Abang berada di atasku. Aku

merasakan sesuatu yang keras di bagian alat kelaminku. Aku tidak

mengerti bahwa yang menempel pada alat kelaminku adalah alat

kelaminnya yang mengeras. Aku hanya merasakan ada kenikmatan ketika

alat kelaminku terkena bagian tubuh Abang yang keras, tanpa sadar

aku biasanya ikut menggoyangkan pinggulku ketika Abang menggoyangkan

pinggulnya menekan lebih kuat bagian tubuhnya ke kelaminku.

Gerakan itu tidak kurencanakan, tapi entah kenapa saat itu aku

menggerakkan pinggulku, walaupun kami masih menggunakan celana

lengkap (aku lebih sering menggunakan celana jeans dari pada rok)

namun aku dapat merasakan nikmat pada diriku. Semakin aku bergoyang,

rasa nikmat itu bertambah, ada rasa nikmat pada alat kelaminku.

Biasanya setelah lama bercumbu seperti itu, Abang mengejang dan

lemas. Aku baru tahu, bahwa saat mengejang itulah Abang orgasme.

Biasanya akan tampak basah di celananya. Aku merasa lega bila Abang

sudah mencapai puncak kepuasan bila sedang bergumul, bukan karena

aku merasa puas, akan tetapi terlepas dari rasa takut dan rasa

bersalah. Aku selalu merasa bahwa ada perasaan yang tidak enak,

perasaan bersalah dan rasa takut, sepertinya aku merasa sangat

berdosa.

Aku serba salah, selama bergumul, aku merasa ada hasrat atau

keinginan yang aneh, kemaluanku sangat nikmat jika tertekan tubuh

Abang. Aku sangat menikmatinya. Beberapa kali, terutama jika aku

mengenakan celana yang berbahan halus, aku bisa mencapai orgasme.

Sebelumnya aku tidak pernah orgasme. Beberapa kali bergumul aku

merasakan orgasme, perasaan yang nikmat luar biasa. Di sisi lain,

setelah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, aku selalu merasa

bersalah, berdosa dan ingin rasanya menyendiri. Oleh karena itu,

setelah orgasme biasanya aku segera melepaskan diri dari dekapan

Abang, dan minta Abang turun dari tubuhku. Hal ini disebabkan aku

ingin menyendiri, tidak ingin bersama Abang, dan menyesal.

Ironisnya, aku tidak tahu apa yang aku sesali. Aku melakukan hal itu

bersama, dan sebetulnya kami tidak melakukan hubungan seksual yang

sebenarnya, jadi tidak harus merasa terlalu bersalah. Akan tetapi

aku sendiri tidak tahu, kenapa perasaan bersalah, berdosa itu selalu

muncul ketika bercumbu berat ataupun setelah orgasme.

Tidak jarang berpikir bahwa aku tidak akan melakukannya lagi. Tapi

pikiran ini tidak pernah terjadi, aku selalu dan selalu akan

melakukan hal itu lagi tanpa dapat menahan keinginanku. Berkali-kali

itu pula Abang selalu kuminta melepaskan pelukan dan dekapan ketika

aku habis orgasme. Suatu saat Abang bertanya, mengapa aku selalu

menolak atau meminta Abang untuk melepaskan pelukan. Aku berbohong

mengatakan bahwa jika aku orgasme aku merasa kepanasan. Hal ini

berulang kali setiap kami bergumul, dan setiap kali aku orgasme,

dengan penuh perhatian Abang mengipasi diriku dengan majalah, koran

ataupun kipas.

Lama kelamaan aku merasa tidak enak telah berbohong dengan orang

yang aku sayangi. Akhirnya aku mengakui bahwa ada perasaan tidak

enak ketika habis melakukan kontak seksual, apalagi kalau orgasme.

Bahkan terkadang aku merasakan perasaan itu ketika hasrat seksualku

mulai bangkit, ketika sedang bercumbu. Abang mengerti perasaanku,

dan Abang bercerita bahwa sebelumnya Abang juga merasakan hal yang

sama, yaitu perasaan bersalah yang amat sangat setelah bermasturbasi

(lihat pengalaman seksual Abang pada tulisan terdahulu). Abang

bercerita bahwa hal itu dapat hilang dengan sendirinya bila kita

menganggap bahwa hal itu hal yang wajar, biasa saja, dan kita juga

memahami bahwa sebetulnya dorongan seksual adalah normal untuk

setiap manusia. Jadi kita tidak perlu merasa terlalu bersalah untuk

melakukan hal ini (jika dipikir memang apa yang Abang katakan benar,

tapi tentunya hal ini tidak sesuai dengan norma yang ada).

Secara logika aku menerima pendapat Abang, bahwa kebutuhan seksual

adalah salah satu kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi, seperti:

makan, minum, tidur. Perlahan-lahan aku mencoba untuk menerima saran

Abang. Aku berusaha melupakan perasaan bersalah. Abang juga terus

meyakinkan aku dengan menunjukkan kepadaku literatur-literatur serta

tulisan-tulisan yang dia peroleh dari berbagai sumber tentang

kehidupan seksual wanita. Buku pengetahuan tentang seksual Abang,

baik dari dalam maupun luar negeri cukup banyak. Beberapa literatur

diberikannya kepadaku. Perlahan-lahan memang perasaan bersalah itu

berkurang, namun, tetap tidak dapat hilang dari perasaanku. Aku

masih tetap merasakan perasaan bersalah.

Tentang Kelamin Pria

Sejalan dengan umur pacaran kami, kami menjadi lebih berani dalam

bercumbu. Kami menjadi lebih saling terbuka dalam mengungkapkan

masalah-masalah seksual. Ada hal yang amat berharga bagiku, yaitu

bahwa Abang tidak senang bila ia ditolak ketika pergumulan sedang

mulai, biasanya dia akan muram bila pergumulan berjalan setengah dan

terhenti. Hal lain yang aku pelajari adalah bahwa Abang sangat tidak

senang apabila ketika sedang bergumul aku tertawa. Kejadiannya

adalah, Abang selalu berusaha untuk memegang payudaraku ketika

sedang bergumul, entah mengapa, aku tidak dapat menikmatinya, geli

sekali apabila payudaraku diraba.

Suatu kali karena tidak tahan, aku tertawa ketika payudaraku diraba.

Abang marah sekali saat itu. Untunglah Abang mau mengerti bahwa aku

bukan mentertawakan apa yang kita lakukan, akan tetapi karena geli

sekali. Abang mau mengerti, akhirnya Abang mengalah dan tidak lagi

mencoba memegang payudaraku (that’s why I love him, sabar dan mau

mengerti aku). Aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku sangat geli

ketika payudaraku disentuh. Dari cerita-cerita teman-teman maupun

bacaan yang kubaca, aku tahu bahwa biasanya wanita akan sangat

terangsang dan senang bila payudaranya disentuh atau dipegang pada

saat melakukan kontak seksual. Payudara adalah bagian tubuhku yang

paling akhir Abang lihat dan sentuh. Abang malah terlebih dahulu

melihat kemaluanku sebelum melihat payudaraku (lihat tulisan tentang

payudara).Kontak seksual lain yang kami lakukan sebelum menikah

adalah petting. Abang yang memulai mengurangi pakaian yang dikenakan

ketika petting. Semula ia mengatakan bahwa kemaluannya agak sakit

bila mengenakan celana panjang, ia kemudian hanya mengenakan celana

dalam ketika petting, semakin lama, ia memintaku untuk mengganti

celana panjang dengan celana pendek, dengan alasan lebih enak dan

tidak panas. Biasanya kalau kami berduaan, aku langsung mengganti

celana pendek, juga bila aku ke tempat kost Abang karena aku membawa

celana pendek, atau menggunakan celana pendek Abang. Selain lebih

enak, juga biar dapat dengan segera melayani Abang tanpa harus

menunda gejolak dengan mengganti celana dulu. Biasanya nafsuku dapat

langsung hilang bila ada sesuatu yang menunda. Lama-kelamaan aku

mulai melepas celana pendek dan hanya menggunakan celana dalam saja.

Hal ini kulakukan selain aku semakin sayang dan percaya sama Abang,

aku lebih senang karena sentuhan kulit dengan kulit semakin terasa.

Suatu kali, ada pengalaman yang sangat menarik, yaitu ketika itu

siang hari, dan kami ingin tidur siang bersama (benar-benar tidur).

Abang mengatakan bahwa ia ingin membuka celana dalamnya, hal ini

memang kebiasaan Abang tidur. Dia mengatakan bahwa Abang punya

kebiasaan membuka celana sama sekali ketika tidur. Waktu itu aku

tidak percaya, dan tidak mengerti mengapa, aku mengira bahwa Abang

mengada-ada. Saat itu aku hanya bilang terserah Abang, dan aku

segera masuk selimut dan berbaring miring memunggungi Abang. Tidak

lama kemudian Abang berbaring sambil memelukku dari belakang. Aku

pegang tangannya, Tidak seperti biasanya, ketika kakiku bergerak,

ada perasaan aneh di sekitar pahaku (aku hanya mengenakan celana

pendek waktu tidur saat itu). Ada seperti menyentuh rambut halus,

dan ada seperti benda Aneh. Aku sukar menggambarkannya, akan tetapi

aku berpikir, pasti itu adalah alat kelamin Abang. Aku kaget sekali,

dan aku langsung bertanya ke Abang, apakah dia jadi membuka

celananya. Abang mengiyakan. Aku terheran-heran.

Kemudian Abang bercerita tentang kondisi kemaluannya, ia bercerita

bahwa ia disunat dan seterusnya. Pada waktu itu yang menarik adalah

bahwa Abang menawarkan untuk memperlihatkan kemaluannya kepadaku.

Aku saat itu sebetulnya ingin sekali melihat, akan tetapi malu untuk

memintanya. Abang sepertinya tahu, lalu aku diminta berbaring di

dadanya, (aku suka sekali berbaring di dadanya) dengan kepala

menengok ke arah kakinya (bayangkan apabila anda bersama pasangan

anda berjalan berdua, lalu tangan laki-laki merangkul, seperti

itulah kami berbaring, tapi saat ini kepalaku bertumpu pada

dadanya), lalu Abang menyingkapkan selimut yang menutupi

kemaluannya, dan dari balik selimut aku melihat benda yang belum

pernah kulihat (live show) sebelumnya, kelamin pria dewasa.

Aneh rasanya melihat kelamin pria, aku sama sekali tidak terangsang,

namun aku tertarik sekali dan ingin melihat lebih jelas. Lalu dengan

masih berbaring, Abang menjelaskan kepadaku bagian-bagian, nama-

namanya, gunanya dan lain-lain. Ia juga memperlihatkan luka bekas

sunat. Ia menceritakan banyak tentang alat kelaminnya. Aku senang

sekali mendapatkan pengetahuan baru tentang seksualitas. Alat

kelamin pria! Saat itu alat kelamin Abang kulihat jelek sekali,

keriput hitam dan ada urat-uratnya, ditambah lagi rambut keriting

yang ada di sekitar batang hitam itu. Aku sama sekali tidak tertarik

secara seksual melihat kemaluannya.

Abang juga menawarkan kalau ingin menyentuh alat kelaminnya. Aku

sedikit bingung, antara mau tahu, malu dan juga agak jijik. Aku

hanya menutupkan mata dan menggidikkan wajah. Abang seakan tahu

bahwa aku sedang bimbang, maka dia memegang tanganku, dan

dibimbingnya tanganku ke kelaminnya. Saat itu tanganku terkepal

kuat, namun Abang tetap menyentuhkan jariku ke kelaminnya dengan

lembut. Ada suatu yang lembut kurasa di jari-jariku. Perlahan kubuka

kepalan tangan, dan Abang tidak lagi memegang tanganku dengan kuat,

tapi memegang dengan lembut dan membimbing tanganku menyentuh

kelaminnya. Aku pun pelan-pelan mulai melihat tanganku yang sedang

menyentuh alat kelaminnya. Aneh, benda jelek seperti ini mempunyai

kulit yang sangat lembut. Di dalam scrotum-nya tampak dua bola yang

bergerak-gerak.

Aku memberanikan diri untuk memegang batang kemaluannya setelah

bertanya apakah akan sakit atau tidak. Aku memegangnya dengan dua

jariku. Aku melihat-lihat dan membalik-balikkan batang kelamin

Abang, (jeleknya kelamin pria ini, pikirku saat itu). Abang berkata

bahwa ia senang sekali karena aku mau memegangnya. Saat itu aku

berterima kasih sekali karena Abang mau menunjukkan sesuatu yang

baru kuketahui, yang sebetulnya sudah lama aku ingin tahu, seperti

apa sih alat kelamin pria itu. Saat ini aku melihat dengan mata

kepalaku sendiri, bukan hanya melihat, tapi menyentuh, dan

memegangnya. Aku pun tahu nama dan guna bagian dari alat kelamin

pria, bukan hanya teori, tapi langsung melihat dan menyentuhnya.

Saat itu aku merasa senang sekali. Siang itu kami tidak melakukan

petting, tapi kami tidur siang berdua, aku tetap berbaring dengan

kepala bersandar di dadanya, dan tertidur ketika aku masih

memandangi dan memegang mainan baruku.

Sejak aku melihat dan memegang alat kelamin Abang, Abang tambah

membekaliku dengan berbagai pengetahuan tentang kontak seksual.

Abang mengajariku untuk memanipulasi alat kelamin pria yang benar.

Abang mengatakan bahwa pria amat senang apabila wanita memegang alat

kelaminnya. Aku tertarik sekali, dan kebetulan setelah berkali-kali

aku memegang dan melihatnya, aku tertarik untuk memegangnya. Adalah

hal yang menarik dan lucu melihat alat kelamin pria yang tadinya

lemas, dan kecil terkulai, bisa menjadi batang keras, besar yang

tegak. Tidak jarang batang kemaluan Abang berdenyut. Aku suka sekali

sensasi ketika memegang batang kemaluan Abang dan batang kemaluan

tersebut berdenyut.

Dari Abang aku diajari cara untuk memegang batang kemaluan secara

benar, membelai dan memainkan scrotum yang menyenangkan tapi tidak

menyakitkan, aku juga tahu bahwa bagian kepala sangat sensitif jadi

sebaiknya tidak dengan gesekan yang terlalu kuat. Saat itu, aku

menjadi suka sekali dengan batang kemaluan, terutama memainkannya

dengan tanganku. Abang akan menggeliat kenikmatan apabila batang

kemaluannya kupelintir-pelintir seperti melinting rokok. Tidak

jarang aku sengaja membuka retsleting dan memegangi kelamin Abang

ketika di dalam mobil (biasanya malam-malam). Aku menjadi senang

memegang batang kemaluan, gemas rasanya memainkan batang kemaluan

pria.

Biasanya apabila aku sedang memainkan batang kemaluan Abang,

hasratku muncul, dan biasanya akan dilanjutkan dengan petting yang

diakhiri dengan orgasme Abang dalam perasan tanganku. Pada

kesempatan itulah aku juga tahu tentang sperma yang keluar dari

batang kemaluan, rasanya pekat, lengket, berwarna putih dan hangat.

Cairan sperma sangat kental dan kalau tidak ditutup atau dihalangi

dapat menyemprot keluar jauh sekali. Jadi, setiap Abang mau orgasme,

biasanya aku menutupi lubang kelaminnya dengan tissue atau celana

dalamnya. Aku lebih senang menutupi dan melap dengan celana

dalamnya, karena bila dengan tissue, biasanya tissue akan lengket di

tanganku, atau di kelamin Abang.

Tidak seperti yang diceritakan di buku porno ataupun cerita-cerita

porno, sperma Abang tidak berbau sama sekali, tapi memang repot juga

kalau sudah mau orgasme, sibuk mencari tissue atau celana dalam

(tapi aku senang lho). Entah kenapa, aku selalu merasa senang sekali

kalau Abang orgasme. Kalaupun aku tidak mengalami orgasme, akan

tetapi aku sangat senang dan bahagia melihat Abang orgasme. Hal ini

memang tidak terlalu sering terjadi, karena biasanya bila melakukan

petting, aku akan orgasme terlebih dahulu, baru kemudian Abang akan

orgasme setelah melakukan petting lagi denganku atau dengan aku

memijat dan meremas batang kemaluannya.

Petting dan Oral Seks

Pengalamanku bertambah lagi setelah aku mulai berani mencium batang

kemaluan Abang. Semula aku ragu-ragu, karena aku masih berpendapat

bahwa kelamin itu jorok. Namun setelah Abang berulangkali

meyakiniku, bahwa alat kelamin tidak jorok, dan hampir sama dengan

anggota tubuh yang lain, maka aku perlahan-lahan mulai memberanikan

diri.

Semula aku hanya mau mencium dengan menempelkan bibir saja. Hal itu

setelah dipaksa oleh Abang. Tapi lama-lama, aku terbiasa, dan ada

daya tarik sendiri, entah apa. Aku menjadi suka menciumi batang

kemaluan Abang. Aku lalu bertanya, sebetulnya apa yang disukai

Abang. Abang memberikan contoh yang diinginkan dengan jarinya, tapi

gambaran tentang cara yang disukai Abang baru jelas setelah Abang

memberi contoh dengan pisang. Ya, alat peraganya pisang, dan sangat

efektif dalam memberikan pelajaran kepadaku. Abang menjelaskan bahwa

ketika aku melakukan oral seks, terkadang gigiku menyentuh kulitnya.

Hal ini tidak menyenangkan. Abang mencontohkan caranya supaya tidak

ada bekas gigi di kulit pisang. Dan hasilnya? Luar biasa. Aku

sendiri terkagum-kagum atas dampak yang aku lakukan ketika

mempraktekan hisapanku. Abang begitu menikmatinya, menggelinjang dan

mendesah-desah. Aku tidak pernah melihat Abang menikmati kontak

seksual seperti saat itu.

Oleh karena itu aku sangat menyukai oral seks, dan sejak itu aku

terbiasa dengan oral seks. Aku dapat melakukannya dengan baik, aku

biasa melakukannya di mobil, di kamar, dan di mana saja ada

kesempatan. Aku suka sekali melihat Abang menggelinjang kenikmatan,

aku suka sekali melihat dan merasakan batang kemaluan Abang

bergerak-gerak ketika dirangsang. Biasanya batang kemaluan Abang

akan sangat cepat ereksi bila aku menghisap kepala batang kemaluan,

dan memainkan lidahku di kepala batang kemaluan seperti sedang

menghisap permen kojak (tahu kan, permen bundar yang ada gagangnya).

Setelah sering kami melakukan petting atau oral seks, dengan keadaan

Abang bugil, dan aku hanya mengenakan pakaian dalamku, lama-lama aku

berani juga membuka celana dalamku ketika petting. Hal ini aku

beranikan setelah mendengar cerita Abang tentang temannya yang suka

melakukan petting dengan pacarnya tanpa mengenakan apapun, tapi

tidak melakukan penetrasi. Aku tertarik juga, lagi pula selama ini

Abang suka memasukkan kelaminnya ke celana dalamku, jadi sama saja.

Akhirnya pada suatu saat aku membiarkan Abang membuka celana

dalamku.

Semula aku masih malu dan menutupi kemaluanku dengan tangan bila

Abang melihat ke arah kelaminku. Aku juga masih belum memberikan

kesempatan kepada Abang untuk memegang alat kelaminku. Tapi itu

tidak bertahan lama. Lama-kelamaan kepercayaanku kepada Abang

semakin meningkat dan membiarkan Abang melihat dan memegang alat

kelaminku. Aneh rasanya alat kelaminku dipegang orang, berarti Abang

adalah orang asing pertama yang memegang alat kelaminku. Aku kurang

begitu senang bila alat kelaminku dipegang, apalagi kalau masih

kering. Lubang kemaluanku memang sulit basah. Terkadang bisa kering

dengan cepat kalau rangsangan tiba-tiba hilang. Karena aku sering

mengeluh, akhirnya Abang jarang memegang dan menyentuh kelaminku

lagi. Padahal sebetulnya nikmat juga kalau sudah terangsang.

Suatu saat, kami sedang bercumbu dan aku hanya mengenakan BH-ku

saja, kemudian Abang menciumi badanku. Aku sangat menyukai bila

Abang mulai menciumi seluruh tubuhku, terasa geli tapi nikmat.

Ciuman Abang mulai turun ke bawah, aku tahu, pasti Abang akan

melakukan oral seks terhadap diriku. Aku menolak, dan mati-matian

aku tidak mau Abang melakukan oral seks kepada diriku. Aku tidak mau

Abang kecewa setelah melakukan oral seks kepada diriku. Aku takut

Abang mencium bau yang tidak sedap di area kewanitaanku. Aku tidak

mau Abang menciumi daerah tubuhku yang kotor. Aku selalu meminta

Abang untuk langsung memelukku dan melakukan petting seperti biasa,

hanya dengan cara seperti ini aku berusaha merayu Abang untuk tidak

melakukan oral seks, tapi tetap melakukan kontak seksual. Lama-

kelamaan, Abang bertanya, mengapa aku menolak. Aku mengatakan

sejujurnya tentang pandanganku. Abang tertawa mendengar

penjelasanku, dan ia kembali memberikan penjelasan kepadaku tentang

oral seks. Tidak lupa ia selalu memberikan literatur-literatur

tentang oral seks dan menerangkan kepadaku dengan sabar.

Suatu saat, setelah aku yakin, aku membiarkan Abang melakukan oral

seks kepada diriku. Ternyata luar biasa! Aku tidak dapat

mengungkapkan perasaan nikmat yang kurasakan ketika Abang melakukan

oral seks. Biasanya aku hanya bisa menggelinjang, meremas bantal

atau memeluk bantal erat-erat ketika Abang memainkan lidahnya di

sekitar bibir kemaluan atau di klitorisku. Sensasional sekali.

Sayangnya aku tidak dapat mendekap tubuh Abang ketika Abang sedang

melakukan oral seks. Aku merasa bahwa aku tidak akan bisa orgasme

kalau aku tidak memeluk Abang. Maka biasanya bila kenikmatan begitu

memuncak, aku menarik Abang untuk melakukan petting seperti biasa

dan kemudian tidak lama kemudian aku akan mendapat orgasme.Sejak

berpacaran dan bercumbu dengan Abang, aku mulai seringkali merasa

gairah seksualku meningkat. Aku sering merasa ingin dipeluk, dicumbu

dan melakukan kontak seksual dengan Abang. Aku seringkali berpikir

bercumbu dengan Abang dan aku bermasturbasi. Banyak cara

bermasturbasi, Abang mengajariku berbagai macam cara bermasturbasi,

tapi aku lebih senang memeluk bantal guling, dengan aku berada di

atas guling, aku menggerak-gerakkan pinggulku menggesekkan klitoris

pada bantal guling sampai orgasme. Posisi seperti menunggang kuda

ini memang amat sering membuatku orgasme. Hampir 90% orgasmeku, baik

masturbasi maupun kontak seksual dengan Abang aku dapatkan dengan

posisi seperti ini. Posisi ini memang memungkinkan aku menentukan

sendiri daerah mana yang lebih enak digesekkan, dan seberapa besar

gesekan yang pas.

Dalam bermasturbasi, aku selalu membayangkan Abang di bawah, dan aku

berada di atasnya. Aku juga pernah mencoba menggunakan shower air

hangat, rasanya menyenangkan dan mengasyikan, tapi tekanan air aku

anggap masih kurang pas buatku, aku tidak dapat orgasme dengan

menggunakan teknik pancuran ini. Aku juga tidak suka menggunakan

tangan, karena kurang nyaman bila memegang daerah klitoris.

Aku menyesal baru mengetahui masturbasi setelah mengenal Abang.

Karena jika aku sudah mengenal masturbasi sejak dulu, tentunya aku

lebih dulu merasakan kenikmatan ini. Saat ini, aku terus

melakukannya bila kangen dengan Abang, hasratku meninggi. Apalagi

aku dan Abang berada di lain kota, maka masturbasi memang jalan

keluar yang terbaik untuk melepas keinginan seksualku. Terkadang aku

menjadi sangat terangsang bila Abang mengatakan di telepon bahwa

batang kemaluannya sedang ereksi, atau Abang sedang merayu-rayuku.

Setelah meneleponku, aku mulai merangsang klitorisku dengan

menggesek-gesekkan daerah kelaminku ke bantal guling.

Tidak seperti wanita lain yang kubaca di literatur atau buku-buku,

aku adalah wanita yang cepat sekali mendapat orgasme. Dengan Abang,

aku hampir selalu orgasme, apalagi dengan posisi aku berada di atas.

Aku selalu merasakan puncak kenikmatan seksual yang amat sangat

menyenangkan bila kontak seksual dengan posisi ini. Dalam satu kali

melakukan kontak seksual ataupun masturbasi, aku hanya bisa orgasme

satu kali. Sulit sekali untuk mendapatkan orgasme yang kedua apalagi

ketiga. Aku harus menunggu lama sekali, biasanya melakukan aktivitas

dulu baru bisa orgasme lagi. Itupun hanya satu kali. Tetapi bagiku

ini bukan suatu masalah. Aku sudah cukup beruntung dapat menikmati

kenikmatan surgawi yang luar biasa hampir di setiap kontak seksual.

Aku tidak dapat membayangkan wanita lain yang tidak pernah mengalami

orgasme, aku tidak dapat membayangkan kehidupan seksual mereka yang

kurang menyenangkan. Bagiku orgasme adalah sangat penting. Ada hal

penting yang menggoda diriku, bahwa aku tidak pernah mengeluarkan

cairan saat orgasme. Memang kemaluanku terasa basah bila terangsang,

akan tetapi tidak pernah mengeluarkan cairan seperti layaknya Abang

mengeluarkan sperma saat ejakulasi. Namun aku selalu merasakan

kepuasan yang luar biasa saat aku orgasme. Menurut Abang hal itu

biasa pada wanita, bahkan menurut Abang, pacar-pacarnya dulu juga

tidak pernah ejakulasi ketika orgasme.

Hal lain yang aku sering lakukan adalah bahwa memang aku seringkali

tidak membutuhkan atau tidak menginginkan orgasme pada setiap kontak

seksual, terkadang aku hanya ingin melayani Abang. Hal ini tampaknya

sulit dimengerti oleh Abang. Abang seringkali memaksakan diri agar

aku mengalami orgasme setiap melakukan kontak seksual. Padahal,

terkadang aku sangat puas hanya dengan melayani Abang, bukan

kepuasan seksual, tapi kepuasan psikologis dapat melayani dan

memberikan kepuasan surgawi kepada pasangan yang amat kusayangi.

Keperawanan dan Hubungan Seksual

Aku selalu berusaha menjaga keperawananku. Aku berprinsip bahwa aku

tidak ingin melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Aku ingin

memberikan kesucianku kepada suamiku. Keinginanku hanya setengah

terkabul. Memang yang memerawaniku adalah Abang, akan tetapi sebelum

pernikahan, kira-kira 5 minggu sebelum pernikahan kami. Saat itu

kami sedang melakukan petting seperti biasa. Sebelum petting kami

berdiskusi tentang malam pengantin kami, keperawanan dan impian kami

dalam menikmati malam pertama. Aku menceritakan ketakutanku

menghadapi malam pertama. Aku tidak dapat membayangkan batang

kemaluan Abang (yang menurut ukuranku besar) akan memasuki

kewanitaanku yang sangat kecil. Aku juga membayangkan kalau batang

kemaluan Abang yang keras memasuki lubang kewanitaanku, tentunya

menyakitkan.

Aku banyak mendengar dari teman-teman kuliah yang sudah menikah,

atau dari pengalaman orang lain bahwa hubungan seksual pertama kali

akan menyakitkan, ada yang sampai tidak bisa berjalan, sakit selama

satu bulan, dan lain-lain. Ketakutan itu begitu menghantui diriku.

Di satu sisi, aku memang amat ingin merasakan hubungan seksual yang

menurut banyak orang begitu nikmat, akan tetapi aku takut untuk

melakukan yang pertama. Jika Abang bertanya kepadaku, apakah aku

ingin melakukan hubungan seksual di malam pertama atau tidak, aku

bingung. Aku sempat mengatakan sebetulnya aku ingin sudah tidak

perawan saat malam pertama, agar aku dapat menikmatinya tanpa sakit.

Rupanya Abang salam paham dengan pernyataanku ini. Maka pada malam

itu, ketika petting, Abang bertanya apakah batang kemaluannya boleh

dimasukkan. Aku saat itu ragu-ragu, antara ingin dan tidak. Aku

tidak mengatakan apa-apa, tapi tidak lama setelah batang kemaluan

Abang menggesek-gesek kemaluanku dari luar, aku merasakan sesuatu

yang memasuki lubang kewanitaanku. Agak nyeri, dan aku tahu bahwa

Abang telah memasukkan batang kemaluannya ke dalam liang

kewanitaanku. “Abang..! Jangan Abang..” Bisikku saat itu, Abang

seolah tidak mendengar dan aku merasakan batang kemaluannya semakin

dalam masuk ke dalam liang senggamaku seiring dengan gerakan pinggul

Abang. Aku menolak Abang, saat itu kuputuskan aku tidak ingin

melakukannya dahulu, dan aku merasakan sakit pada lubang

kewanitaanku.

Karena aku mendorongnya, aku merasakan batang kemaluannya tercabut

dari liang kewanitaanku. Agak nyeri, ada perasaan seperti benda yang

memaksa masuk, dan ada sensasi seperti (maaf) saat kotoran yang

keluar di saat buang air besar, tapi sensasi ini di lubang

kewanitaanku. Abang tetap memeluk, dan saat itu bersamaan dengan

orgasmenya. Aku merasa lega, karena bersamaan dengan Abang orgasme.

Aku pun memeluknya dengan erat.

Setelah Abang melepaskan diri, karena ingin membersihkan tumpahan

sperma di kasur, aku melihat ada tetesan darah di paha dan rambut

kemaluanku, dan juga di sprei bersama tumpahan sperma Abang. Saat

itu aku berpikir bahwa aku dapat haid, karena memang sudah saatnya

aku datang bulan. Rangsangan seksual tentunya membantu keluarnya

darah, pikirku. Segera Aku membersihkan noda darah di sprei dan di

sekitar kemaluanku dengan tissue, Kemaluan Abang juga aku bersihkan

dengan tissue. Saat itu masih terasa sensasi adanya barang yang

masuk di kemaluanku walaupun sudah tidak ada apa-apa lagi.

Setelah bersih-bersih, dan menghabiskan waktu, sore hari aku

memeriksa pembalut wanitaku. Ternyata tidak ada lagi darah keluar.

Padahal biasanya pendarahan di hari pertama lumayan banyak. Aku

menyampaikan hal ini ke Abang. Abang hanya terdiam, dan dia

mengatakan bahwa ada kemungkinan aku sudah tidak perawan lagi.

Aneh, aku tidak merasa menyesal, sedih, atau apapun. Aku hanya

berpikiran bahwa kalaupun itu adalah darah perawanku, aku tidak

menyesal karena aku berikan kepada Abang, yang saat itu sudah

kuanggap sebagai suami (karena tinggal 5 minggu lagi kami akan

menikah). Aku hanya khawatir bahwa darah tersebut bukan karena

sobeknya selaput dara, akan tetapi karena gangguan dalam rahimku.

Pikiran ini terus menghantui diriku sampai seminggu setelah itu.

Untungnya Abang bisa meyakinkanku bahwa bukan kelainan, akan tetapi

akibat sobeknya selaput keperawananku. Kami sepakat bahwa akan kita

lihat pada malam pertama. Jika ternyata aku tidak berdarah lagi,

berarti itu adalah akibat sobeknya selaput dara, akan tetapi bila

berdarah, ada kemungkinan dari sebab lain. Kami sangat berdebar

menunggu hari H. Sampai hari H, kami tidak pernah melakukan lagi,

bahkan petting pun jarang kami lakukan. Selain sibuk, aktifitas

seksual kami lakukan hanya dengan melakukan petting saja.

Tidak terasa, hari yang ditunggu tiba. Acara pernikahan berlangsung

lancar. Aku begitu terharu, begitu juga Abang. Malam pertama kami

lewatkan di sebuah hotel. Kami merasa senang sekali, saat mandi,

kami mandi berdua, saling menyabuni satu sama lain, begitu

menyenangkan. Saat itu juga kami saling mencukur bulu kelamin satu

sama lain sampai benar-benar mulus (namun kami berdua sepakat bahwa

kami tidak akan mencukur lagi sampai mulus karena amat sangat tidak

nyaman ketika rambut-rambut itu tumbuh kembali).

Setelah acara dengan keluarga terdekat selesai dan kami kembali ke

hotel, Aku langsung memeluk Abang, mencium pipinya. Berjuta

perasaanku saat itu, senang, takut, terharu, lelah, namun ada hal

yang amat kusukai, bahwa akhirnya kami berdua bisa menikah dan

menjadi suami-isteri. Aku memaksa Abang untuk melakukan malam

pertama kami malam itu, semula Abang mengalah dan tidak ingin aku

terpaksa karena lelah. Tapi aku memaksa karena aku tidak ingin

suamiku tidak merasakan malam pertama, yang ditunggu-tunggu. Abang

kemudian mencumbuku, setelah batang kemaluannya tegak sempurna dan

sangat keras (hasil latihannya sebelum menikah membuat batang

kemaluannya keras luar biasa. Aku sempat takut tapi terkagum-kagum).

Sebelum memasukkan batang kemaluannya, aku menuangkan sedikit baby

oil ke lubang kenikmatanku, dan aku juga menuangkannya di batang

kemaluan Abang (baby oil ini ide Abang, supaya aku tidak merasa

sakit saat pertama kali berhubungan seksual, karena menurut Abang,

sakit atau tidak tergantung dari lubrikasi lubang kemaluan). Aku

menutup mataku, dan berdebar, sangat takut. Berjuta perasaan ada

dalam pikiranku, namun aku berusaha tetap tampak tenang. Tidak lama

kemudian, aku merasakan batang kemaluan Abang menyentuh bibir

kemaluanku. Dimain-mainkannya ujung batang kemaluan di bibir

kewanitaanku. Aku menjadi semakin senewen. Saat itu Abang terus

menciumi pipi, leher, kuping sambil terus memainkan ujung batang

kemaluan di bibir kemaluanku. Aku menjadi bernafsu, dan mulai

mengulum bibir Abang.

Tidak lama kemudian, aku merasakan kemaluanku terasa sedikit panas,

dan penuh saat batang kemaluan Abang memasuki lubang kemaluanku. Aku

tersentak, ingin rasanya mendorong Abang. Untung tidak aku lakukan,

aku malah memeluknya keras. Namun aku tidak dapat menahan

rintihanku. Aku hampir menangis ketika Abang berhenti melakukannya

dan berkata ingin mencabut kalau aku merasa sakit (Abang begitu

perhatian dan sayang padaku, sampai-sampai Abang mau berhenti

melakukan kenikmatan malam pertama untukku). Aku begitu terharu, dan

aku memintanya untuk meneruskannya. Aku tidak dapat menikmati malam

pertamaku. Sakit, dan ada sensasi seperti saat membuang air di

kemaluanku saat batang kemaluan Abang keluar masuk. Aku tidak

orgasme selama dua malam, tapi aku sangat puas.

Dari malam pertama aku tahu bahwa selaput daraku sudah sobek 5

minggu sebelum pernikahan. Rasa sakit, sepertinya bukan karena

sobeknya selaput dara, akan tetapi karena belum terbiasanya lubang

kewanitaanku menerima batang kemaluan dan lubrikasi yang kurang.

Hari ketiga, ketika sudah kesekian kalinya kami melakukan hubungan

badan, aku mendapatkan orgasme pertamaku yang aku dapat saat

melakukan hubungan seksual. Seperti biasa, aku mencapai kenikmatan

luar biasa tersebut dengan posisiku di atas. Ada sensasi yang sangat

berbeda ketika aku orgasme dengan adanya batang kemaluan yang masih

berada dalam liang senggamaku, luar biasa. Sejak saat itu, aku sudah

mulai menyukai, amat menyukai, bahkan tergila-gila melakukan

hubungan seksual dengan Abang. Begitu menyenangkan dan nikmat

sekali. Aku pun lama-lama dapat berhubungan seksual tanpa harus

menggunakan baby oil. Saat ini sudah beberapa posisi yang kami coba.

Dari semua posisi, aku sangat menyukai dua posisi Missionary: Abang

di atas dan memelukku, atau aku di atas dan memeluk Abang dari atas.

Posisi terakhir ini yang pasti membuatku orgasme.

Hasil latihan Abang memperkeras batang kemaluannya dan menahan

orgasme membuatku sangat tergila-gila untuk selalu melakukan

hubungan seksual. Saat aku tidak bersama Abang, biasanya aku

bermasturbasi dan membayangkan saat batang kemaluan Abang memasuki

lubang kewanitaanku. Sungguh, menurutku tidak ada hal lain yang amat

menyenangkan diriku saat aku orgasme ketika melakukan hubungan

seksual dengan Abang. Latihan Keggel yang kujalani ternyata dapat

membantuku mencapai orgasme dan juga menurut Abang menambah nikmat

hubungan seksual ketika aku melakukan kontraksi otot-otot yang aku

latih dengan latihan Keggel.

Aku saat ini merasa bahwa aku adalah wanita paling bahagia di dunia,

karena aku mempunyai suami yang baik, pengertian, sabar, dapat

memenuhi nafsu seksualku yang tidak pernah padam, dan aku termasuk

di antara sedikit wanita yang pernah dan sering mengalami orgasme

ketika berhubungan seksual. Oleh karena itu, bila anda ingin

bertanya, berbagi pengalaman, ingin tips-tips, kritik dan lainnya,

silakan Anda menghubungi saya atau suami saya melalui e-mail. Kami

berdua akan sangat senang berkomunikasi dengan Anda semua. Semoga

tulisan ini dapat berguna.
 

Blogroll

Text

COWOK ZONE Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template